MOVE ON (2)

Ada yang (masih) ragu untuk move on. 
Iya, masih mengaku belum bisa melupakan si dia. Harus diakui, dalam urusan melupakan, hal ini memang cukup sulit. Tapi sampai kapan kamu terus menerus larut dalam ingatan masa lalumu? 

Melupakan.
Ada yang bilang, lebih sulit melupakan daripada mencintai. Mungkin hal ini ada benarnya. Ia sempat singgah dan mengajarimu cara mencintai, namun lupa mengajarkanmu cara melupakannya ketika ia tiba-tiba pergi. Aku akui hal inilah yang menjadikan diri tenggelam dalam masa lalu. Namun apakah kau tahu? Seberapa pun kerasnya kau coba tuk melupakan, itu sama halnya kau sedang mengingat dirinya. Sampai kapan pun aku yakin kita tidak akan pernah bisa melupakan seseorang yang pernah mengisi hari-hari kita (kecuali amnesia). 

Meskipun nantinya ia akan lenyap ditelan waktu. Kenangan itu tak ada yang tahu selain Tuhan, dirinya dan kamu. Tak perlu menjadi sesalan. Cukup dipahami sebagai pelajaran. Karena ketika semuanya telah berakhir, hanya satu hal yang perlu kau pertahankan.
Bukan. Bukan melupakan.
Hanya perlu menyimpan kenangannya dalam ingatan. 
Jangan mengusik hal yang tak perlu lagi diusik. Ia hanya akan mendatangkan angin yang berbisik. Entah itu lantunan musik atau hanya kisah klasik. Cukup dikenang dalam diam agar semesta tak berisik. 

Masih ragu untuk move on? 
Sudahlah. Berhenti melakukan percobaan. Semuanya sudah tahu bahwa kamu tak akan mungkin bisa melupakan. Percobaan yang harusnya kamu siapkan saat ini adalah mencoba berhadapan. 
Ya. Hadapilah kenyataan. 
Beranikah kamu berhadapan dengannya yang telah tersimpan rapi dalam kenangan? Jika jiwa ragamu masih saja ragu, sampai kapan pun kamu tidak akan bisa keluar dari tawanan. Ayolah, pikirkan masa depan. Hidupmu terlalu berharga jika hanya meratapi yang seperti ini terus-terusan. 

Apakah kamu melihat cahaya yang di sana? Iya. Itu sebuah harapan. Harapan yang menunggu usahamu untuk menjemputnya tanpa beban. Tanpa masa lalu yang perlahan sudah mulai karatan. Yakinlah, Tuhan selalu punya kendali dalam kehidupan. Hanya ada pelangi setelah hujan. Dan hidupmu akan lebih berwarna jika mampu berhadapan dan terus berjalan. Hingga akhirnya akan kau temui makna sesungguhnya dari sebuah tujuan. 

(17.02.15)

Iklan

MOVE ON

Move on itu tak semudah menuliskan dan mengucapkannya. Ia begitu simpel namun tak se-simpel prakteknya. Begitu mudahnya orang lain menyarankan hal itu namun belum tentu dia sendiri bisa menjalaninya. Hahaha, problematika yang sulit diterima sebenarnya. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Aku yakin kita semua pasti bisa! 😉

Move on itu artinya berjalan terus. Ya berarti kita mesti terus berjalan dan berjalan terus dong. Tidak bisa terus-terusan diam di tempat. Ingat! Waktu terus berputar. Ia mengajarkan kita untuk terus berjalan meski seabrek masalah terus menghujam. Terkadang masa lalu memang sering membuat hati kita menjadi gamang. Entah sihir apa yang seketika membawa kita hanyut dalam masa lalu, yang hadirnya membuat kita terkadang mewek melulu. Tidak hanya itu, terkadang juga kita dihujani masa lalu hingga dibanjiri kenangan indah waktu dulu.
Kenapa semuanya harus terjadi? Terkadang hati ini menjerit tak terima dengan hal ini. 

Apakah detak rindu itu masih bergetar? Ataukah getar cinta itu telah memudar?
Apa yang bisa buatku sadar?
Sadar bahwa semua itu tak mungkin lagi kuabadikan dalam gambar. Bahwa semua itu tak mungkin lagi bisa kudengar. Tapi, bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini?
Apakah salah jika aku berharap kesempatan kedua?
Apakah salah jika aku masih merasakan detak rindu yang ada?

Ya. Semua masa indah itu seharusnya membawa kita menuju masa depan yang bahagia. Namun bila memang takdirnya harus terpisah, tak perlu kau merasa resah. Ini hanyalah secuil kisah yang tak baik bila terus menerus kau desah. Kisah ini biarlah angin yang membawanya melangkah, melangkah menuju tumpukan masa lalumu yang akan segera kau kunci dengan bahagia. Lalu dirimu pun akan siap menyambut hari-hari baru bersama lembaran kisah baru yang akan indah untuk diabadikan tentunya. 

Awalnya memang sulit menjalani hal yang tak sejalan dengan keinginan kita. Yang nyatanya memang masih dibayangi masa lalu hingga lupa segalanya. Padahal masih banyak hal-hal baik yang menunggu di luar sana. Ya, mencoba mengeringkan luka dengan sendirinya itu cukup sulit. Apalagi jika tak ada yang membantu untuk merawat luka itu hingga pulih. Beruntung bila yang merawat luka itu adalah orang yang telah melukai. Artinya ia bertanggungjawab atas luka yang telah menyakiti. Namun lain halnya bila orang lain yang memulihkan luka di hati. Hal inilah yang mengharuskan kita untuk berhati-hati. Jangan sampai terperangkap lagi dalam jebakan hati. 

Jadi…
Masihkah sulit untuk move on pada masa lalu yang pernah singgah di hati?
Yakin saja. Waktu akan segera membawamu terbiasa untuk menghadapi hari. Ya. Menghadapi hari tanpa dia yang terkadang buatmu sedih. Meskipun sendiri, toh masih banyak sahabatmu yang menawarkan diri untuk buatmu happy. Tak perlu menyusahkan diri dengan segelintir kisah perih. Tenggelamkan saja hingga ombak yang akan membawanya pergi.

(16.02.15)

-= TERKA =-

Terka itu sama halnya kamu berkata ‘duga’.
Ya. Menerka sama dengan menduga. Namun di sini aku beda dalam memaknainya. Terka yang aku maksud adalah Terima Kasih. 
Iya. Cobalah diteliti, Terima Kasih itu bila disingkat akan membentuk kata “Ter-Ka” bukan? 🙂

Terima Kasih. 
Ucapan ini sangat ditunggu-tunggu bagi beberapa orang yang merasa dirinya telah membantu atau meringankan beban seseorang. Namun, apa jadinya bila kita berterima kasih kepada orang yang telah menyakiti hati kita? Apakah tidak salah berterimakasih kepada orang yang telah jelas membuat beban pikiran kita semakin bertambah? 

Sementara aku…
Aku di sini juga merasa menjadi korban. Korban yang sempat membuang waktu karena keresahan yang telah ia torehkan. Pun luka itu sepertinya belum kering bila diungkit kembali sejarah goresannya. Entah hanya aku yang berlebihan atau merekayasa tuduhan, tapi inilah kenyataan. Semua pedih yang telah ditorehkan begitu membekas hingga aku hanya bisa menahan sakit yang ditimbulkan. 

Tapi tak seharusnya aku ungkapkan semua ini. Mengulas kisah pedih sesungguhnya membuat luka semakin perih. Semestinya aku biarkan saja hingga perih ini hilang sendiri. Hingga semuanya menjelma menjadi kisah manis yang abadi. 

Kembali lagi.
Berterimakasih kepada yang menyakiti?
Ya. Sebenarnya kita HARUS berterimakasih kepada mereka bukan karena mereka berhasil menyakiti atau menambah beban pikiran kita. Namun karena mereka berhasil membuat kita menjadi bijak dalam berpikir, bisa belajar menghadapi kenyataan pahit yang sesungguhnya, dan menjadikan kita sebagai manusia yang lebih banyak termotivasi untuk segera bangkit menuju kehidupan yang lebih baik dengan segudang kisah pahit yang telah mereka berikan.
Lalu tunggu apa lagi?
Berterimakasihlah! 😀

(16.02.15)

KODE

“KODE” itu biasanya lahir dari jiwa-jiwa yang tidak mau  mengungkap. Mungkin juga malu jika terungkap.
Tak perlu gagap, yakin saja perlahan pasti semua kan terungkap. 

Kode itu aku maknai dengan KOrban DEkat. Jadi bisa dipastikan yang mendapat kode itu adalah orang terdekatnya. Entah betul atau benar, menjadi conan pun tak masalah. Hanya saja, saat ini aku mulai mengerti. Ternyata kode itu bukan dicari. Kode itu cukup dipahami. Karena ia memang akan datang sendiri, lalu tanpa sadar menarik kita untuk segera melihat, mengetahui dan memahami. 

Kode itu memang aneh. Datangnya tiba-tiba dan tak terduga. Disaat semua sepi tanpa canda, seketika ada yang merasa bahwa di sana ada tanda. Tanda yang bernama kode itu perlahan mulai nyata. Rona wajah menjelma merah pertanda bahagia.
Ternyata… ada makna dibalik sebuah tanda. Ya. Ada yang ingin kita menjadi seseorang yang ditunggunya. Mungkin juga inginkan kita menjadi pribadi yang baik seutuhnya. 

Kode nyata.
Siapa yang lebih banyak memberikan tanda? Pria atau wanita? Ah, aku pikir sama saja. Tak ada bedanya. Semua berusaha memberikan tanda disetiap celah yang ada. Tak peduli dibilang bercanda atau sesungguhnya. Yang jelas ia telah menorehkan tanda yang (mungkin) hanya bisa dibaca oleh orang yang diinginkannya. 
Begitu misterius sepertinya, namun tak ada salahnya bermain kode nyata. Kode nyata yang memberikan satu makna tanpa terka. 

Lalu, apakah harus berbalas kode dengannya?
Hahaha, kau pikirkan saja. Perlu atau tidaknya hanya kau yang rasa. Tapi berusahalah untuk tidak menciptakan kecewa, meskipun sebelumnya pernah ada yang menggoreskannya. Tak baik selalu menyimpan sangka atau rasa. Cukup dituangkan dalam doa, pun bisa dikatakan dalam tanda, dan akhirnya tanda itu perlahan akan mengungkap ribuan makna. 

Kode itu tersirat. 
Ya. Semua kode pasti menyimpan makna yang tertutup rapat. Tak peduli ia baik atau jahat. Yang terpenting ia akan sampai kepada orang yang tepat. Tersirat bukan berarti tak boleh tersurat. Ia tentu bebas menyebarkan kode tersirat di tempat yang dianggap sebagai penyelamat. Tidak butuh semua kodenya diingat. Hanya butuh seseorang yang bisa menerjemahkan yang tersirat tanpa penat.

(13.02.15)

>> Aku Mengerti <<

Ketika kau coba berlari.
Aku mencoba berjalan meski tertatih.
Ketika kau coba sembunyi.
Aku mencoba mencari hingga teriakan menjadi lirih.
Ketika kau coba pergi.
Aku coba mengerti meski terasa begitu sedih. 

Kini aku mengerti.
Tak selamanya musim itu hanya bersemi. 
Tentu kita tahu akan ada pula musim gugur, dingin, dan panas. 
Begitupun saat ini…
Tak selamanya kita akan saling menemani. 
Tentu kita tahu akan ada masa ketika kita harus berkelana, membanting tulang, hingga akhirnya menuju bahtera rumah tangga.

Aku mengerti. 
Saat kita bersama seperti saat ini. 
Sepertinya tak akan ada yang peduli. Tak akan ada yang mencoba memisahkan diri. Pun berlari tanpa permisi.  
Namun nyatanya ada saja yang tak sadar diri. Ia terus berlari tanpa henti.
Hingga ia lupa, ternyata ia pergi tanpa permisi. 
Apa yang ada dipikirannya saat ini? 
Apakah amnesia dini? 
Apakah ia pikir kami tak peduli?
Apakah ia pikir kami tak menyadari?
Ah, banyak alasan untuk memungkiri. 
Mungkin nanti ia akan sadar sendiri.
Lalu mengutarakan penyesalan yang lahir dari hati. 

Bukankah selama ini kita saling mengabari?
Prioritas kita selalu berbagi. 
Setiap kejadian selalu menjadi topik terkini. 
Namun ada apa kali ini?
Kenapa kau seketika menghilang bak ditelan bumi?

Ya. Mungkin saja kau ingin aku mengerti. 
Mengerti dengan kondisi yang tak bisa dijabari.
Mengerti dengan segala hal yang belum bisa kau bagi.
Mengerti dengan luapan emosi yang belum terkendali. 

Meski di sini tak ada angin yang mengabari.
Tak ada burung yang bernyanyi. 
Tak ada sang surya yang menyinari. 
Namun di sini masih ada pelangi, yang selalu menemani hati. 
Masih ada malam yang menyelimuti hingga aku berkata:
“Ya. Aku mengerti.”

(10.02.15)

PERCAYALAH!

Aku percaya.
Pada kenyataan yang selalu indah dengan kejujurannya.
Selalu menyadarkan setiap nama yang sedang dilema.
Pun mengantarkan kita pada kata yang sering disapa ‘menerima’. 
Menerima yang seharusnya, tanpa peduli dengan yang sebenarnya. 

Percayalah! 
Aku di sini (masih) percaya.
Burung-burung itu pasti akan segera membawa berita.  
Tak peduli berita suka ataupun duka. 
Yang pasti ia tak akan rela melihatku kehilangan arah. 
Meskipun aku sebenarnya tak tahu tentang keberadaannya. 

Iya. Aku percaya.
Meski terkadang mengutuk hari, yang biarkan aku terus sendiri.
Membiarkan aku larut dalam sepi. 
Membiarkan aku tenggelam dalam mimpi.
Hingga aku terpenjara dalam naungan sunyi. 

Percayalah!
Aku masih di sini.
Masih menunggu burung-burung itu bernyanyi. 
Lantunannya selalu kunanti. 
Yang seakan membawaku terbang tinggi. 
Lalu berharap hal ini tak akan berhenti. 
Hingga kutemukan kata yang sejati. 

Aku semakin percaya. 
Bahwa hari selalu memberi arti.
Bahwa hari pasti akan bersemi. 
Bahwa hari selalu memberikan apapun sebelum pergi.
Bahwa hari tak pernah lari sebelum ada yang mencobanya sendiri. 
Lalu apalagi? 
Cobalah sendiri. 
Berdiri sendiri.
Langkahkan sendiri. 
Akhirnya pun kau akan terkubur sendiri. 

Jadi tak perlu berlama-lama larut dalam merenungi.
Semuanya akan berjalan pasti.
Semuanya akan bisa kita hadapi. Asalkan kita bisa percaya diri. 
Ya. Percayalah. 
Semuanya akan selalu dan tetap terlindungi. 
Tak perlu meragukan diri.
Hadapi! 
Langkahmu bukan beberapa centi.
Masih banyak ribuan langkah kaki. Masih banyak gunung yang mesti didaki. Masih banyak lautan yang harus diseberangi. 

Percayalah. 
Ketika apapun atau siapapun pergi.
Pasti ia akan kembali menemui, bila memang hal itu begitu berarti. 
Tak perlu meratapi. 
Cukup sabar saja dalam menanti. 
Hal itu akan segera kembali. 
Atau mungkin akan hadir yang lebih baik sebagai ganti.
Hanya butuh doa agar semua tetap terkendali. 
Dalam harap dan diam diri, doa pun akan terus mengalir tanpa henti. 
Percayalah. 🙂

(09.02.15)

S P A S I

Seberapa sering kamu mendengar kata “spasi”?

Mendengar kata itu tentu yang terlintas dipikiran kita hanya satu, ya kata itu sama halnya seperti jarak. Setiap kita mengetik sesuatu atau menulis sesuatu tentunya harus ada spasi untuk menciptakan kalimat menjadi rangkaian kata yang sempurna. Pun sempurna pula maknanya.

Namun, kenapa kita masih resah bila ada spasi dalam suatu hubungan? Bukankah hal itu akan menciptakan rangkaian kisah yang sempurna? 
Ya, kebanyakan kita terlena akan kedekatan di setiap hari yang selalu kita jalin bersamanya. Lalu ketika kedekatan itu mulai berjarak, kita seakan cemas dengan kondisi yang sebenarnya tidak akan mengurangi apa-apa. Saat itu kita mulai curiga, berburuk sangka, bahkan menerka-nerka. Semua rasa menjadi tak tahu arah. Mungkin begitulah ketika kita belum bisa membiasakan hal yang sebelumnya menjadi kebiasaan bersama. 

Awalnya mungkin akan terasa begitu berat untuk menerima. Namun yakin saja, waktu akan bersedia membawa kita terbiasa dengan segalanya. Terbiasa dengan jarak antar kota, terbiasa tanpa sapa, bahkan terbiasa tanpa suara dan kata-kata darinya.

Yakin saja. Kita akan tetap sama meski spasi itu menghampiri. Tetap sama meski rindu selalu menghantui. Tetap sama meski dirinya perlahan pergi. Tak ada yang salah dengan kata spasi. Jaraknya memang membuat hati benci, namun tanpanya rangkaian kata tiada berarti. Seperti itu juga suatu hubungan. Meski jaraknya membuat hati benci, namun kisahnya akan menjadi lebih berarti. 

Ayolah…Mulai saat ini kita harus terbiasa tanpa yang biasanya biasa. Kita harus terbiasa menjalani hari dengan kebiasaan yang lebih berwarna. Karena bila terus meratapi yang biasanya biasa, kita tidak akan pernah tahu bagaimana membiasakan diri untuk menyambut hal yang luar biasa. 

Berterimakasihlah kepada spasi yang menyapa kebersamaan kita. Karenanya kita lebih mengenal makna kerinduan yang menerpa. Karenanya kita lebih mengenal arti peduli yang selalu ikhlas memberi. Karenanya kita lebih mengenal cinta yang tak akan sirna walau jauh di mata. Karenanya kita lebih mengenal kasih sayang meski hadirnya hanyalah sebuah bayang. 

(07.02.15)